[ARTIKEL] Nikmatnya Kuliah di Inggris

Alright, thank you for attending my lecture. I have put some reading lists that you should prepare for next meeting on VLE website. Nice to meet you all”

Itu adalah kalimat terakhir yang disampaikan oleh dosenku setelah jam perkuliahan berakhir. Semua mahasiswa di kelas bergegas untuk keluar dan berjalan cepat menuju sebuah gedung yang sangat popular di kalangan mahasiswa University of York. Gedung itu memiliki tiga lantai dan berlokasi di jantung kampus, ini merupakan tempat yang sangat nyaman bagi para mahasiswa karena tidak pernah tutup. Namanya adalah JB Morrell Library.

Setelah perkuliahan berakhir, aku dan teman-temanku selalu bersemangat untuk menuju perpustakaan. Bukan karena mau dibilang mahasiswa rajin, tapi memang ini merupakan sebuah kewajiban. Sebelum perkuliahan di mulai, dosen selalu memberikan beberapa judul buku hingga detail halaman berapa yang harus dibaca untuk mempersiapkan perkuliahan di minggu berikutnya. Kalau kita terlambat datang ke perpustakaan, nanti buku itu akan keburu diambil orang dan kita tidak bisa mempersiapkan untuk kuliah. Akibatnya, di kelas tidak paham apa yang dikatakan oleh dosen. Aku menyadari bahwa bahasa inggrisku masih sangat lemah, terkadang dosen di kelas suka bicara dengan intonasi yang sangat cepat dan menggunakan Yorkshire accent yang agak sulit untuk dipahami. Salah satu solusinya adalah aku membaca beberapa buku sebelum perkuliahan di mulai.

Setiap mahasiswa di University of York dapat memiliki akses ke sebuah website namanya Yorkshire VLE (Virtual Learning Environment). Ini merupakan website yang menyediakan mengenai informasi perkuliahan. Salah satu konten yang ada di website itu adalah slide power point yang akan ditampilkan pada perkuliahan, judul buku yang harus dibaca sebelum mulai perkuliahan, serta tugas-tugas apa saja yang perlu diselesaikan pada setiap term nya. Selain itu, hal yang membuat aku sangat senang adalah setiap perkuliahan selalu direkam oleh dosen dan rekamannya ada di website VLE. Ini sangat mempermudah mahasiswa internasional seperti aku yang memiliki kesulitan dalam memahami perkuliahan. Sehingga setelah pulang kuliah, aku dapat mengakses website itu dan mendownload PPT serta memutar kembali rekaman yang sudah di upload oleh dosen. Sungguh sangat indah kuliah disini.

Kehidupan mahasiswa di Inggris sangat disibukan dengan membaca. Meskipun satu semester ini aku hanya memiliki tiga mata kuliah, namun setiap modul ada banyak buku bacaan yang wajib dipersiapkan sebelum masuk perkuliahan. Bagi aku sebagai mahasiswa internasional, ini merupakan bagian dari academic culture shock. Sejujurnya, dulu aku tidak terbiasa dengan intonasi belajar seperti ini. Kebiasaanku dulu selalu diperbanyak dengan nongkrong dan ngobrol bersama teman-teman kuliah. Namun disini segalanya sangat berbeda, yang aku lihat disini adalah mahasiswa yang sangat asik dengan buku bacaan dan laptopnya masing-masing. Ini adalah hal yang membuat Inggris sebagai salah satu negara maju karena budaya membaca mereka sangat tinggi. Perlahan, aku dapat menyesuaikan dengan budaya seperti ini.

Di Inggris, ada beberapa mata kuliah yang memiliki dua kali pertemuan setiap minggunya. Pertama adalah lecture atau perkuliahan tatap muka dengan dosen, dan yang kedua adalah seminar, aku sangat suka seminar. Lecture atau perkuliahan tatap muka dengan dosen adalah sama seperti di Indonesia, setiap minggu selama kurang lebih dua jam para mahasiswa masuk kelas dan belajar bersama dosen. Sedangkan seminar itu pertemuan yang lebih fokus lagi, satu orang dosen terdiri dari 9 orang mahasiswa dan kami fokus membedah jurnal internasional. Aku sangat suka seminar karena lebih focus pada suatu pemecahan masalah dan menganalisis kekurangan dari penelitian jurnal internasional. Minggu lalu, seminar aku membahas jurnal dari Daekin University, Australia mengenai international Postgraduate Experience in Daekin University. Setiap mahasiswa mendapatkan kesempatan untuk memperdebatkan argumennya masing-masing. Dosen di Inggris sangat terbuka, bahkan ia selalu menantang dan senang dengan mahasiswa yang berbeda pendapat dengan dia. Ia mengatakan bahwa proses pembelajaran akan terjadi apabila terdapat perbedaan pendapat. Inilah yang membuat aku sangat senang dan nyaman dengan kuliah di Inggris.

Pada awal-awal perkuliahan, aku sangat kaget dengan banyaknya critical review dari jurnal-jurnal internasional dan buku-buku yang harus dibaca setiap minggunya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, aku dapat menyesuaikan dengan budaya akademik di Inggris. Sehingga hasilnya aku merasa sangat nyaman dan setiap hari selalu ada pengetahuan baru yang selalu aku ingat.

Salam

Asep Rudi Casmana

MA in Global and International Citizenship Education

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s